Minggu, 08 Juni 2014

Makalah Penyebaran Flora dan fauna di Indonesia Oleh Anak STKIP KIE RAHA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah.
            Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupun fauna. Kekayaan keanekaragaman hayati ini membiarkan keuntungan yang besar bagi masyarakat. Dalam makalah ini yang di bahas yaitu mengenai tentang tumbuhan saja (flora). Keanekaragaman Flora di Indonesia sangatlah banyak, Hal ini  dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukung persebaran tersebut. Diantaranya adalah tinggi rendah dari permukaan laut, jenis tanah, jenis hutan, iklim, pengaruh manusia, keadaan air dan lain-lain. Selain itu Flora daerah Indonesia bagian barat memiliki banyak kesamaan dengan Benua Asia, karena daerah ini pernah bersatu dengan daratan Asia, sehingga disebut sebagai flora asiatis. Oleh sebab itu. Disamping memenuhi tugas makalah mata kuliah Geografi Regional Indonesia, Saya menyusun makalah ini yang berjudul “Persebaran flora dan fauna indonesia”
1.2. Rumusan Masalah.
            Adapun batasan Masalah dalam karya tulis ini adalah:
1.      Persebaran flora di beberapa daerah di Indonesia tidaklah Merata dan bagih dalam beberapa bagian
2.      Persebaran fauna di beberapa  daerah tidaklah merat dan sama dan di bagi dalam beberapa bagian wilayah.
1.3.Tujuan Yang Ingin Dicapai
Adapun Tujuan penulis dalam penulisan karya tulis ini adalah:
1.      Sebagai salah satu syarat mengikuti mata kuliah Geografi Regional Indonesia.
2.      Untuk mengetahui persebaran flora dan fauna ,nacam-macam bentuk yang ada di beberapa daerah Indonesia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Persebaran flora di Indonesia.
            Dunia tumbuhan selalu mengalami proses perubahan, perkembangan dan penyebaran. Perubahan, perkembangan dan penyebaran tumbuhan di muka bumi ini “seirama” dengan perubahan dan perkembangan faktor intern dan ekstern. Faktor-faktor biologik sebagai faktor dalam (intern) meliputi perkawinan silang, mutasi, dan modifikasi genetika dari tumbuhan tersebut Faktor geografik sebagai faktor loaf (ekstern) meliputi perubahan iklim, tanah, aktivitas vulkan, dan kerak bumi. Secara garis besar penyebaran tumbuhan di muka bumi ini dapat digolongkan menjadi 8 kelompok yaitu berdaun lebar hijau sepanjang tahun, berdaun lebar disertai masa gugur daun, berdaun jarum hijau sepanjang tahun, rerumputan, bangsa lumut, campuran tumbuhan berdaun lebar dan jarum hijau sepanjang tahun, berdaun jarum mengalami musim gugur, dan campuran tumbuhan berdaun lebar hijau sepanjang tahun dan masa gugur daun. Flora di Indonesia sangatlah banyak. Hal ini pasti dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukung persebaran tersebut. Diantaranya adalah tinggi rendah dari permukaan laut, jenis tanah, jenis hutan, iklim, pengaruh manusia, keadaan air dan lain-lain. Berikut ini adalah pembagian wilayah persebaran flora di Indonesia.
Flora daerah Indonesia bagian barat memiliki banyak kesamaan dengan Benua Asia, karena daerah ini pernah bersatu dengan daratan Asia, sehingga disebut sebagai flora asiatis. Flora Indonesia bagian barat terdiri dari :
1.                  Hutan hujan tropik yang ditandai oleh rimba belantara dengan tumbuhan yang beraneka ragam. Hutan hujan tropik yang masih lengkap memiliki ciri – ciri berdaun lebar, pohon tinggi besar, belukar – belukar tropik, serta cendawan. Wilayah ini terdapat di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
2.                  Hutan musim yang merupakan daerah yang ditumbuhi flora yang menggugurkan daunnya di musim kemarau. Wilayah ini terdapat di wilayah utara Jawa.
3.                  Hutan bakau yang merupakan daerah yang terdiri dari flora khas pantai, seperti rumbia, nipah dan bakau.
4.                  Sabana tropik yang merupakan padang rumput yang diselingi pohon tegakan tinggi. Sabana tropik ini dapat ditemui di Gayo, wilayah timur Jawa Timur, dan  Bali.
Wilayah ini memiliki berbagai jenis vegetasi, antara lain :
1.      Sabana tropik yang berada di Nusa Tenggara Barat.
2.      Steppa yang merupakan p       adang rumput yang diselingi pohon tegakan tinggi. Steppa  banyak terdapat di Nusa Tenggara Timur.
3.      Hutan bakau yang terdiri dari nipah dan bakau.
4.      Hutan pegunungan yang terdiri dari cemara dan pinus.
Wilayah ini memiliki berbagai flora yang disebut sebagai flora Asustralis, karena kesamaan flora antara wilayah Indonesia bagian timur dengan Australia. Kesamaan tersebut karena daratan ini pernah bersatu dengan daratan Australia. Flora bagian timur ini banyak terdapat di Papua. Jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropik, hutan pegunungan, dll
Persebaran flora di Indonesia terbentuk karena adanya peristiwa geologis yang terjadi pada jutaan tahun yang lalu, yaitu pada masa pencairan es (zaman glasial). Pada saat itu terjadi pencairan es secara besar-besaran yang menyebabkan naiknya permukaan air laut di bumi, hal ini menyebabkan beberapa wilayah yang dangkal kemudian menjadi tenggelam oleh air laut dan membentuk wilayah perairan yang baru.
Beberapa wilayah perairan baru di sekitar Indonesia yang terbentuk pada masa berakhirnya zaman glasial itu adalah Laut Jawa yang terdapat di daerah Dangkalan Sunda dan Laut Arafuru yang terdapat di daerah Dangkalan Sahul. Terbentuknya perairan baru di daerah dangkalan tersebut menyebakan flora yang semula dapat dengan bebas bermigrasi akhirnya terhambat oleh perubahan kondisi geologis. Jenis tumbuhan yang tersebar di wilayah Indonesia meliputi hutan tropis, hutan musim,  hutan pegunungan, hutan bakau dan sabana tropis. Persebaran flora di wilayah Indonesia itu sendiri terbagi ke dalam 4 kelompok besar wilayah flora Indonesia, yaitu :
1. Wilayah Flora Sumatra-Kalimantan
Tersebar di pulau Sumatra dan Kalimantan serta pulau-pulau kecil di sekitarnya (Nias, Enggano, Bangka, Belitung, Kep. Riau, Natuna, Batam, Buton dll). Contoh flora khas yang tumbuh adalah Bunga Bangkai (Raflesia Arnoldi)
2. Wilayah Flora Jawa-bali
Tersebar di pulau Jawa, Madura, Bali dan kepulauan-kepulauan kecil disekitarnya (Kepulauan Seribu, Kep. Karimunjawa). Contoh flora khas yang tumbuh adalah pohon Burohal (Kepel)
1.      Wilayah Flora Kepulauan Wallacea
Tersebar di pulau Sulawesi, Timor, Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara. Contoh flora yang tumbuh adalah pohon Sagu.
2.      Wilayah Flora Papua
Meliputi wilayah pulau Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Contoh Flora Khas tumbuh adalah Eucalyptus, sama dengan jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah Queensland Australia Utara.
Apabila dilihat melalui ruang lingkup dunia maka persebaran tumbuhan dibagi menjadi beberapa wilayah penyebaran, yaitu:
1.      Wilayah Oriental
Untuk daerah oriental, daerah penyebaran biotiknya meliputi daerah Asia bagian selatan pegunungan Himalaya, India, Sri Langka, Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa, Kalirnantan, Sulawesi, dan Filipina. Flora yang ada misalnya: Bunga Bangkai
2.      Wilayah Australian
Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia Baru, Irian, Maluku, pulau-pulau di sekitarnya, dan kepulauan di Samudera Pasifik. Contohnyan adalh: Eukaliptus.
B. Pola Penyebaran Tumbuhan
1.   Bentuk Penyebaran atau Distribusi Tumbuhan
Penyebaran atau distribusi tumbuhan dalam suatu populasi bisa bermacam-macam, pada umumnya memperlihatkan tiga pola penyebaran, yaitu
  1. Penyebaran secara acak , jarang terdapat di alam. Penyebaran ini biasanya terjadi apabila faktor lingkungan sangat beragam untuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk berkelompok dari organisme tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-bentuk organ tertentu yang menunjang untuk terjadinya pengelompkan tumbuhan.
  2. Penyebaran secara merata, umumnya terdapat pada tumbuhan. Penyebaran semacam ini terjadi apabila ada persaingan yang kuat antara individu-individu dalam populasi tersebut. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk mendapatkan nutrisi dan ruang.
  3. Penyebaran secara berkelompok, adalah yang paling umum di alam, terutama untuk hewan. Pengelompokan ini disebabkan oleh berbagai hal:
1.      Respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara lokal
2.      Respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman akibat dari  cara atau proses reproduksi atau regenerasi.
2.   Penentuan Pola Penyebaran Tumbuhan
Pola penyebaran setiap jenis tumbuhan ditentukan menggunakan rumus rasio varians dengan nilai tengah sebagai berikut (Setiadi, 1984).
Penyebaran= V/m :


M =
Keterangan:
V= varians
m= nilai tengah
Xi= banyaknya individu suatu jenis pada petak contoh ke-i
n= banyaknya petak contoh
Kriteria pola penyebaran horizontal:
a.       Jika nilai V/m= 1, maka individu tumbuhan berdistribusi acak (random).
b.      Jika nilai V/m> 1, maka individu tumbuhan berdistribusi mengelompok.
c.       Jika V/m< 1, maka individu tumbuhan berdistribusi seragam.
B.     Persebaran fauna di Indonesia.



JENIS-JENIS DAN PERSEBARAN FAUNA DI INDONESIA
a. Fauna Asiatis (Oriental)
Fauna ini tersebar di bagian Barat yang meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Daerah ini juga disebut daerah fauna dataran Sunda.
Fauna Asiatis antara lain adalah: gajah India di Sumatera, harimau terdapat di Jawa, Sumatera, Bali, badak bercula dua di Sumatera dan Kalimantan, badak bercula satu di Jawa, orang utan di Sumatera dan Kalimantan, Kancil di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan beruang madu di Sumatera dan Kalimantan. Hal yang menarik adalah di Kalimantan tidak terdapat harimau dan di Sulawesi terdapat binatang Asiatis seperti monyet, musang, anoa, dan rusa. Di Nusa Tenggara terdapat sejenis cecak terbang yang termasuk binatang Asia. Fauna endemik di daerah ini adalah, badak bercula satu di Ujung kulon Jawa Barat, Beo Nias di Kabupaten Nias, Bekantan/Kera Belanda dan Orang Utan di Kalimantan. Dapatkah Anda menyebutkan fauna Asiatis lainnya?
b. Fauna Australis
Fauna ini terdapat di Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya. Binatang-binatangnya mempunyai kesamaan dengan binatang-binatang di benua Australia. Daerah ini juga disebut fauna dataran Sahul., contohnya antara lain: kanguru, kasuari, kuskus, burung cendrawasih dan berbagai jenis burung lainnya, reptil, dan amphibi. Apakah Anda dapat menyebutkan lainnya?
c. Fauna Peralihan
Fauna peralihan tersebar di Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Daerah fauna Peralihan dibatasi oleh garis Wallace yang membatasi dengan fauna di dataran Sunda dan garis Weber yang membatasi dengan fauna di dataran Sahul. Contoh faunanya antara lain: babi rusa, anoa, kuskus, biawak, katak terbang. Katak terbang ini juga termasuk fauna Asiatis. Di daerah fauna peralihan juga terdapat fauna endemik seperti: Komodo di P.Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, tapir (kerbau liar), burung Kasuari di Pulau Morotai, Obi, Halmahera dan Bacan.

Demikian telah Anda pelajari pembagian kelompok fauna Indonesia. Termasuk kelompok manakah fauna di tempat Anda tinggal? Jenis-jenis hewan apa saja yang ada di daerah Anda?

Setelah Anda mengetahui pembagian jenis fauna di Indonesia, kini Anda akan mempelajari tentang jenis-jenis fauna di dunia yang dibedakan berdasarkan wilyahnya.
PEMBAGIAN WILAYAH  FAUNA DUNIA
Persebaran hewan di muka bumi ini didasarkan oleh faktor fisiografik, klimatik dan biotik yang berbeda antara wilayah yang satu dengan lainnya, sehingga menyebabkan perbedaan jenis hewan di suatu wilayah. Seperti diketahui setiap spesies hewan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mengatasi hambatan-hambatan. Andaikan tidak ada hambatan-hambatan maka persebaran hewan akan berjalan terus.

Misalnya hewan yang biasa hidup di pegunungan akan sulit hidup di dataran rendah. Atau hewan yang biasa hidup di daerah panas akan sulit hidup di daerah yang beriklim dingin atau kurang curah hujannya. Di samping itu faktor sejarah geologi juga mempengaruhi persebaran hewan di wilayah tertentu karena wilayah tersebut pernah menjadi satu. Namun hewan berbeda dengan tumbuhan yang bersifat pasif.

Pada hewan, bila habitatnya dirasakan sudah tidak cocok, seringkali secara masal mengadakan migrasi ke tempat lainnya. Oleh karena itu pola persebaran fauna tidak setegas persebaran flora. Adakalanya hewan khas di suatu wilayah juga terdapat di wilayah lainnya.
Pada tahun 1876 Alfred Russel Wallace membagi wilayah persebaran fauna atas 8 wilayah yaitu: Ethiopian, Palearktik, Oriental, Australian, Neotropical dan Neartik, Oceanik dan Antartik. Untuk lebih jelas dan pemahaman Anda semakin mantap mengenai letak wilayah persebarannya, cobalah sambil mempelajari materi ini juga menggunakan peta dunia. Kedelapan wilayah persebaran fauna tersebut adalah sebagai berikut.
a. Wilayah Ethiopian
Wilayah persebarannya meliputi benua Afrika, dari sebelah Selatan Gurun Sahara, Madagaskar dan Selatan Saudi Arabia.Hewan yang khas daerah ini adalah: gajah Afrika, badak Afrika, gorila, baboon, simpanse, jerapah. Mamalia padang rumput seperti zebra, antilope, kijang, singa, jerapah, harimau, dan mamalia pemakan serangga yaitu trengiling. Mamalia endemik di wilayah ini adalah Kuda Nil yang hanya terdapat di Sungai Nil, Mesir. Namun di Madagaskar juga terdapat kuda Nil namun lebih kecil. Menurut sejarah pulau Madagaskar pernah bersatu dengan Afrika. Wilayah Ethiopian juga memiliki hewan yang hampir sama dengan di wilayah Oriental seperti: golongan kucing, bajing, tikus, babi hutan, kelelawar, dan anjing.
b. Wilayah Paleartik
Wilayah persebarannya sangat luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Uni Sovyet, daerah dekat Kutub Utara sampai Pegunungan Himalaya, Kepulauan Inggris di Eropa Barat sampai Jepang, Selat Bering di pantai Pasifik, dan benua Afrika paling Utara. Kondisi lingkungan wilayah ini bervariasi, baik perbedaan suhu, curah hujan maupun kondisi permukaan tanahnya, menyebabkan jenis faunanya juga bervariasi.

Beberapa jenis fauna Paleartik yang tetap bertahan di lingkungan aslinya yaitu Panda di Cina, unta di Afrika Utara, binatang kutub seperti rusa Kutub, kucing Kutub, dan beruang Kutub. Binatang-binatang yang berasal dari wilayah ini antara lain kelinci, sejenis tikus, berbagai spesies anjing, kelelawar. Bajing, dan kijang telah menyebar ke wilayah lainny
e. Wilayah Oriental
Fauna di wilayah ini tersebar di kawasan Asia terutama Asia Selatan dan Asia tenggara. Fauna Indonesia yang masuk wilayah ini hanya di Indonesia bagian Barat. Hewan yang khas wilayah ini adalah harimau, orang utan, gibbon, rusa, banteng, dan badak bercula satu. Hewan lainnya adalah badak bercula dua, gajah, beruang, antilop berbagai jenis reptil, dan ikan. Adanya jenis hewan yang hampir sama dengan wilayah Ethiopian antara lain kucing, anjing, monyet, gajah, badak, dan harimau, menunjukkan bahwa Asia Selatan dan Asia Tenggara pernah menjadi satu daratan dengan Afrika.
f. Wilayah Australian
Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia Baru, Irian, Maluku, dan pulau-pulau sekitarnya. Beberapa hewan khas wilayah ini adalah kanguru, kiwi, koala, cocor bebek (sejenis mamalia bertelur). Terdapat beberapa jenis burung yang khas wilayah ini seperti burung cendrawasih, burung kasuari, burung kakaktua, dan betet. Kelompok reptil antara lain buaya, kura-kura, ular pitoon.
Kini Anda telah menyelesaikan mempelajari kegiatan 3 modul ini. Bacalah sekali lagi dan carilah sumber-sumber lain baik dari majalah, buku-buku, video, dan acara televisi. Diskusikan dengan teman atau guru bila ada hal yang perlu lebih diperjelas lagi.
Setelah itu coba Anda kerjakan tugas di bawah ini.
USAHA - USAHA PELESTARIAN FLORA DAN FAUNA
Pemanfaatan Flora dan Fauna
Keberadaan flora dan fauna tak dapat dipisahkan didalam kehidupan manusia. Tumbuhan dan hewan mempunyai manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Ada saling ketergantungan antara tumbuhan, hewan dan manusia untuk kelangsungan hidup mereka masing-masing. Sebagian hewan mempunyai andil bagi pertumbuhan dan persebaran tumbuhan. Binatangpun hidup dari tetumbuhan juga. Bahkan binatang karnivora, seperti harimau misalnya, sesungguhnya bergantung pada tumbuhan karena makanannya terdiri dari binatang herbivora yang hidupnya dari tetumbuhan Ketergantungan flora dan fauna pada manusia adalah dalam upaya perkembangbiakan, persebaran, dan pelestariannya.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia memanfaatkan flora dan fauna untuk berbagai tujuan. Pemanfaatan flora dan fauna oleh manusia antara lain adalah untuk :
  1. Dikonsumsi.
    Manusia membutuhkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk keperluan tubuhnya agar tetap hidup dan sehat. Oleh sebab itu beberapa jenis tumbuhan dan hewan tertentu dikonsumsi oleh manusia.
  2. Tujuan pendidikan dan penelitian

    Suaka margasatwa dan cagar alam merupakan tempat yang sangat ideal untuk tujuan pendidikan dan penelitian karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan jenis-jenis tumbuhan, hewan dan ekosistemnya.
  3. Sarana rekreasi

    Keanekaragaman flora dan fauna digunakan pula untuk tujuan rekreasi sehingga dapat menghasilkan devisa bagi pemerintah. Contohnya Kebon Raya Bogor dan Kebon Raya Cibodas, di Jawa Barat, Pulau Komodo di P. Komodo, Tanjung Puting di Kalimantan, dan Ujung Kulon di Jawa Barat dijadikan tempat wisata dan banyak diminati oleh turis domestik dan luar negeri.

    Apakah di daerah Anda ada cagar alam atau suaka margasatwa yang dijadikan tempat wisata? Pernahkah Anda mengunjunginya dan manfaat apa yang Anda peroleh di sana?
Fungsi Suaka Margasatwa dan Cagar Alam
Sebelum membicarakan tentang fungsi suaka margasatwa dan cagar alam, terlebih dahulu Anda harus mengerti apa yang dimaksud dengan suaka alam, suaka margasatwa, dan cagar alam.
Suaka alam merupakan kawasan di daratan dan perairan yang mempunyai fungsi utama sebagai kawasan perlindungan dan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan hewan serta tata lingkungannya. Suaka alam merupakan usaha konservasi flora dan fauna yang mencakup cagar alam dan suaka margasatwa.
Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ekosistem asli, memiliki ciri khas berupa keanekaragaman dan keunikan jenis satwanya. Suaka margasatwa bertujuan untuk melindungi dan melestarikan kelangsungan hidup satwa tertentu agar tidak punah. Selain itu dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.







BAB III PENUTUP.
© Kesimpulan
Flora dan fauna Indonesia terbagi atas beberapa bagian yaitu dia antaranya: asiatis,endemic, dan australis. Mengapa demikian karena daerah tersebut pernah menyatu satu namun kemudian terpisah karena es mencair dan membentuk lautan yang sangat luas, sehingga flora dan funanya terisolasi di daerah tersebut.
© Saran
Saran saya sebagai penulis makalah ini dan sekalian bapak atau Ibu dosen berserta teman- teman agar memberikan masukan kritik maupaun saran, karena saya sebagai penulis belum merasa lebih baik dan sempurna dalam penyusunan makalah ini mohon di beri arah dan petunjuk dalam bentuk bimbingan.











DAFTAR PUSTAKA

Kamis, 29 Mei 2014

Laporan Pasang Surut Oleh Adiatman



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas berkat dan rahamat Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang  “Laporan Pengukuran Pasang Surut Air laut“ pada mata kuliah oceanografi, makalah ini merupakan hasil pembelajaran yang penulis dapatkan dari materi dan observasi terhadap kenyataan yang penulis temui berdasarkan hasil pembelajaran selama ini baik itu di kelas. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang pemanfaatan lahan pantai untuk tanaman serealia.
Saya  mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan dari semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran penyusunan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan saya sebagai penulis, khususnya bagi Mahasiswa dan penulis merasa Analisis ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis sangat mengharapkan kritikan maupun usul  saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini. 







BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pasang surut air laut adalah suatu gejala fisik yang selilu berulang dengan periode tertentu dan pengaruhnya dapat dirasakan sampai jauh masuk kearah hulu dari muara sungai. Pasang surut terjadi karena adanya gerakan dari benda benda angkasa yaitu rotasi bumi pada sumbunya, peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bulan mengelilingi matahari. Sejak terjadinya laut di permukaan bumi ini, laut menjadi tempat penampung dari batuan yang diangkut dari sungai dari darat, dari letusan gunung api dan juga dari meteoroid yang jatuh/datang dari angkasa luar. Akibatnya laut menjadi penuh dengan segala jenis senyawa yang kita kenal.
Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang laut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera. Pasang laut merupakan hasil dari gaya gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi (bumi). Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Diposaptono, 2007).
Pasang laut purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang sangat tinggi dan pasang surut yang sangat rendah. Pasang laut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang laut perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang rendah dan pasang surut yang tinggi. Pasang laut perbani ini terjadi pada saat bulan seperempat dan tigaperempat. Pengetahuan tentang pasang laut sangat diperlukan dalam transportasi perairan, kegiatan di pelabuhan, pembangunan di daerah pesisir pantai, dan lain-lain. Karena sifat pasang laut yang periodik, maka ia dapat diramalkan.Untuk dapat meramalkan pasang laut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-masing komponen pembangkit pasang laut. Seperti telah disebutkan, komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk (morfologi) pantai, superposisi antar komponen pasang laut utama, dan faktor-faktor lainnya akan mengakibatkan terbentuknya komponen-komponen pasang laut yang baru.
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. Faktor non astronomi yang mempengaruhi pasut terutama di perairan semi komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian tertutup seperti teluk adalah bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan. Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah.  Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range) (Diposaptono, 2007).

I.2 Tujuan
     Untuk mengetahui pasang surut air dalam satu (1) jam.






BAB II
 KAJIAN TEORI
2.1 TEORI PASANG SURUT.
2.1.2  Definisi Pasang Surut
            Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.
Pasang surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut atmosfer (atmospheric tide), pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of the solid earth).
            Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal.  Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat  rotasi.  Gravitasi  bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.  Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi.  Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut.  Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.

2.1.3  Teori Pasang Surut
            Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727).  Teori ini menerangkan sifat-sifat
pasut secara kualitatif.  Teori terjadi pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966).  Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan system bumi matahari.
            Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan densitas yang sama dan naik turun muka
laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut atau GPP (Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal, teori ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari. Gaya pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).

2.1.4  Teori Pasut Dinamik (Dynamical Theory).
            Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang homogen masih diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya tarik periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstitue-konstituennya.  Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasut dapat diketahui secara kuantitatif.  Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya pembangkit pasut.  Karena terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang perlu diperhitungkan selain GPP. Menurut Defant (1958), faktor-faktor tersebut adalah.
• Kedalaman perairan dan luas perairan
• Pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis)
• Gesekan dasar
Rotasi bumi menyebabkan semua benda yang bergerak di permukaan bumi akan berubah arah (Coriolis Effect).  Di belahan bumi utara benda membelok ke kanan, sedangkan di belahan bumi selatan benda membelok ke kiri.  Pengaruh ini tidak terjadi di equator, tetapi semakin meningkat sejalan dengan garis lintang dan mencapai maksimum pada kedua kutub.  Besarnya juga bervariasi tergantung
pada kecepatan pergerakan benda tersebut.
Menurut Mac Millan (1966) berkaitan dengan dengan fenomeana pasut, gaya Coriolis mempengaruhi
arus pasut. Faktor gesekan dasar dapat mengurangi tunggang pasut dan menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag) serta mengakibatkan persamaan gelombang pasut menjadi non linier semakin dangkal perairan maka semaikin besar pengaruh gesekannya
.
3. Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut
            Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan  teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).
            Pasang surut
laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal.  Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.  Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi.  Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut.  Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Priyana,1994).
Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi yang besarnya tergantung kepada besarnya masa benda yang saling tarik menarik tersebut. Bulan memberikan gaya tarik (gravitasi) yang lebih besar dibanding matahari.  Hal ini disebabkan karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih dekat ke bumi. Gaya-gaya ini mengakibatkan air
laut, yang menyusun 71% permukaan bumi, menggelembung pada sumbu yang menghadap ke bulan.  Pasang surut terbentuk karena rotasi bumi yang berada di bawah muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik.  Gaya tarik gravitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut selama periode sedikit di atas 24 jam (Priyana,1994).
2.2 Hubungan Pasang Surut Dengan Bulan.
            SainsMe - Banyak yang mengatakan bahwa fenomena pasang surut air laut erat kaitannya dengan bulan. Benarkah demikian? Jawabannya adalah benar. Tetapi,  bagaimana sampai bulan yang jauh dari bumi itu bisa mempengaruhi keadaan air laut?
            Bulan dan bumi memiliki gravitasinya masing-masing. Kedua gaya gravitasi ini ternyata saling memengaruhi satu sama lain. Antara pusat bumi dan pusat bulan terjadi gaya saling tarik menarik akibat gravitasi tersebut. Gaya ini mengakibatkan bumi sedikit tertarik ke arah bulan. Inilah yang mendasari terjadinya pasang surut air laut.
            Kondisi saat air laut naik disebut pasang naik. Kondisi ini terjadi dua kali, yaitu pada saat bulan purnama dan bulan baru. Di belahan bumi yang mengalami bulan purnama, jarak antara air laut dan pusat bulan lebih dekat daripada jarak antara pusat bumi dengan pusat bulan. Akibatnya, gravitasi bulan menarik air laut lebih kuat daripada bumi. Ini mengakibatkan air laut sedikit menggembung terhadap permukaan bumi dan jadilah pasang naik. Sebaliknya, di belahan bumi yang mengalami bulan baru, jarak air laut dan pusat bulan lebih jauh daripada jarak antara pusat bumi dengan pusat bulan. Akibatnya, gravitasi bulan menarik bumi lebih kuat daripada air laut di bagian tersebut. Ini mengakibatkan air laut juga sedikit menggembung terhadap permukaan bumi dan jadilah pasang naik.
Sedangkan kondisi saat air laut turun disebut pasang surut. Kapan kondisi ini terjadi? Tentu saja saat bukan bulan purnama maupun bulan baru. Penggembungan air di bagian yang mengalami bulan purnama dan bulan baru tentu saja mengambil jatah air dari belahan bumi lainnya. Karena itulah di belahan bumi lainnya terjadi pasang surut. Pasang surut terbanyak terjadi saat bulan separuh, karena pada saat bulan separuh, bagian bumi tersebut berada tepat di tengah bagian yang mengalami bulan purnama dan bulan baru.
Benarkah pasang surut air laut dipengaruhi bulan?
Gambar : pasang surut air laut di pengaruhi oleh bulan.
2.3 GAYA GRAFITASI MATAHARI
            Gravitasi matahari juga ikut mempengaruhi pasang surut air laut, tetapi tidak begitu besar pengaruhnya, seperti gravitasi pada bulan. Hal ini karena gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.Ini menyebabkan meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi.
                                      



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Alat Dan Bahan
NO
ALAT
BAHAN
1
SPIDOL
BUKU GRAFIK
2
TALI ARAVIA
KAYU
3
METER

4
PENA

5
PARANG

6
SENTER

7
OBOR

3.2 Cara Pengukuran.
            Setelah alat dan bahan sudah tersedia dan siap di pakai. Adapun tata cara pengukuran dibagi dua kategori fase pengukuran sebagai berikut. Penulis menyiapakan buku dan membuat grafik kenaikan air pada puncaknya dengan mulai mengukur air pasang sampai surut.
Sketsa  gambar wilayah  pengukuran pasang surut
3.2.1 Fase pengukuran Pertama  pada pukul 21:17-22:15
            Pembagian pengukuran terdiri dari beberapa kelompok dengan menggunakan peralatan dan bahan yang sudah ada, dengan memulai pengukuran dari bibir pantai yang puncaknya pasang air laut mencapai 60 cm pada sumbu x atau horizontal.
            Di setiap pengukuran mulai dengan stop wacth penhitung waktu untuk mengukur surutnya air,15 menit dari sekarang. Dengan memberi  tanda pada setiap tiang dengan menggunakan tali aravia dengan hasil yang tidak  jauh berbeda.Ada pun jumlah tiang yang di gunakan sebanyak 8 buah tiang dengan panjang lebih dari 1 meter. Dengan jarak tiang satu ketiang lain tidak jauh berbeda. Di ukur mulai tiang pertama. Sampai kedelapan dari garis vertical menujuh kelaut, begitu setrusnya.
PENTUJUK PENGUKURAN
1.      Panjang Tiang (Y) 2 meter lebih.
2.      Jarak dari tiang ke tiang 1 meter.
3.      Di setiap pengukuran 15 menit sekali
4.      Beri tanda pada pengukuran.
5.      Kemudian ukurlah tiang yang sudah di beri tanda
6.      Dan islilah sesuai pentujuk pada kolum yang di sediakan.
7.      Dan jangan lupa gunakan stop wacth untuk mengtahui berapa lama proses pengukuran
3.2.2 Fase Pengukuran Ke Dua Pada  Pukul 03:26 – 04:09
            Pada pengukuran Ke 2 peneliti melakukan pengukuran dari air surut pada puncaknya kemudian peneliti melakuakan pengukuran pasangya air laut. Dengan demikia peniliti melakukan tahap – tahap pengukuran. Adapun cara pengukurann sebagai berikut :
1.      Tiang Yang di butuhkan 10 buah tiang.
2.      Jarak antar tiang 1 meter.
3.      Pada pengkuran pasangnya air laut 15 menit sekali.
4.      Gunakan stop Wacth untuk Mengetahui waktu start pengukuran dan waktu yang di butuhkan.
5.      Kemudian isilah hasil pengukuran pada table untuk mengetahui perbandingan kenaikan atau pasang air laut.
3.3 Penyajian Hasil Data.
3.3.1 Pengukuran surut air laut .
            Pada pengukuran pertama pada pukul 21:17 – 22:15, jadi waktu yang di tempuh oleh peniliti kurah lebih satu jam tiga puluh dua menit. Dalam pengukuran tersebut peneliti harus bekerja sama antar kelompok dalam pengukuran tersebut. Pada awal pengukuran yang harus di perhatikan peneliti yaitu puncaknya air pasang pada wilyah pengukuran. Kemudian memulai pengukuran pada pasangnya air laut pada puncaknya, pada saat itulah peneliti mulai start pengukuran pada saat surutnya air laut.
Adapun Hasil pengukuran di Lokasi penelitian sebagai berikut :

Nilai Y
Nilai X
Y =
Y1
Y2
Y3
Y4
Y5
60 cm
1
5 cm
7 cm
5 cm
6 cm
4 cm
40 cm
2
5 cm
6 cm
6 cm
7 cm
4 cm
88 cm
3
5 cm
8 cm
4 cm
7 cm
5 cm
65 cm
4
6 cm
7 cm
5 cm
7 cm
5 cm
72 cm
5
5 cm
7 cm
4 cm
7 cm
5 cm
 X =  65 cm
6
5 cm
7 cm
3cm
7 cm
5 cm

7
6 cm
8 cm
3 cm
7 cm
5 cm
8
6 cm
9 cm
3 cm
7 cm
5 cm

5,375
7,375
4,125
6,875
4,75

TOTAL  = 5,7
Ket :
Y =  merupakan Tiang yang di tancapkan untuk mengukur surutnya air pada setiap pengukuran 15 sekali.
X = Merupakan pengukuran pada bibir pantai setiap 15 menit sekali.
DIK :
 Y = Y1+Y2+Y3+Y4+Y5:5 = 5,7 cm
 X = X1+X2+X3+X4+X5 : 5 = 65 cm
Y = Y1+Y2+Y3+Y4+Y5:5 = 5,7 cm
 X = X1+X2+X3+X4+X5 : 5 = 65 cm
 Y = 57 cm dan X = 65 cm
Jadi  selisih dari 57 cm dan 65 cm selama satu jam tiga puluh dua menit.
selama pengukuran berlangsung  dari puncaknya pasang sampai surutnya air rata  rata surutnya selama 1 jam 32 menit  adalah 12 cm.
3.3.2.Pengukuran Pasang air laut.
            Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory) Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727).  Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif.  Teori terjadi pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut (King, 1966). 
            Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan memisahkan pergerakan system bumi bulan matahari  2 yaitu, system bumi bulan dan system bumi matahari. Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan densitas yang sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut atau GPP (Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal, teori ini berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari. Gaya pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).

3.3.4 Hasil Pengukuran Air Pasang.
Tabel pengukuran I
Pengukuran pasang air laut mulai pengukuranya dari titik puncaknya surutnya air laut kemudian tunggu beberapa kemudian peneliti untuk melakukan pengukuran pada pukul 03:26 sampai pada pukul 04:09.  jika dilihat dari lama pengukuran yang di lakukan oleh penliti, maka waktu yang di butuhkan oleh kurang lebih 1 jam 35 menit.
No
Y

Y1
Y2
1
6
5
2
4
5
3
7
4
4
6
4
5
6
5

           Total 5,2 cm
Dik:
Y = …?
Y1 = 29 Y2 = 23
Jadi Y
Maka pada pengukuran pasang air laut bagian pertama di setiap kenaikan rata rata air laut dalam 15 menit sesekali ialah 5,2 cm pasangnya air laut, selama 1 jam 35 menit.

 Grafik Kenaikan Pasang Air Laut Selama 1 Jam 35 Menit.
Grafik Bagian Y1
Dari hasil yang saya temui di lapangan mengatakan bahwa di setiap kenaikan air laut tidaklah merata, mengapa demikian…..?

Tabel Pengukuran II
No
Y
1
6
2
4
3
4
4
6
5
6

Total 5,2 cm